
Cibubur, 11 September 2025 – Ratusan calon karyawan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) duduk dengan seragam putih-hitam di Aula Sarbini, Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur. Mereka adalah peserta Pembekalan Gelombang VI, gelombang terakhir sebelum perusahaan beralih ke sistem rekrutmen modern ala BUMN.
Suasana hening ketika Direktur Utama, Jenderal TNI (Purn.) Agus Sutomo, SE, berdiri di podium. Dengan suara tegas, ia menegaskan bahwa kesempatan ini adalah pintu terakhir sebelum proses perekrutan menjadi lebih ketat.
“Bersyukurlah kalian mendapat kesempatan ini. Ke depan, rekrutmen akan berbeda. Ribuan orang akan bersaing. Kalian adalah angkatan terakhir dengan pola seperti ini,” ucap Pak Agus Sutomo membuka arahannya

Gotong Royong dan Harga Diri Bangsa
Dalam pidatonya, Pak Agus Sutomo mengingatkan pentingnya nilai gotong royong sebagai ciri bangsa Indonesia. Beliau menyinggung sejarah kemerdekaan sebagai bukti bahwa persatuan dan kepedulian bisa mengalahkan kekuatan besar.
“Bangsa kita hanya pakai bambu runcing, tapi bisa merdeka melawan senjata modern. Itu karena kita bangsa yang peduli, bersatu, dan berani. Semangat itu yang harus kalian bawa ke Agrinas Palma,” katanya
Beliau menekankan bahwa setiap individu harus memiliki harga diri, kompetensi, dan kemauan untuk unggul. “Jangan puas hanya karena sudah diterima. Tunjukkan bahwa kalian mampu bersaing dan berkontribusi. Jangan jadi egois atau masa bodoh. Kita ini keluarga besar,” tegasnya.

Tiga Nilai Utama: Patriot, Loyal, Profesional
Dirut juga menegaskan nilai dasar yang wajib dipedomani seluruh insan Agrinas Palma: patriotisme, loyalitas, dan profesionalisme.
“Yang tidak patriot, tidak loyal, dan tidak profesional berarti pengkhianat. Dan pengkhianat tidak ada tempat di perusahaan ini. Tidak ada kesempatan kedua,” ujarnya lantang
Selain itu, beliau mengingatkan agar karyawan siap ditempatkan di seluruh wilayah operasi, dari Papua hingga Aceh. “Tidak ada tempat bagi mereka yang hanya mencari kenyamanan. Kita butuh individu tangguh yang siap berkontribusi,” tambahnya.

Disiplin Waktu dan Kepedulian Kecil
Pak Agus Sutomo menaruh perhatian serius pada disiplin waktu. “Jam 08.00 harus sudah masuk. Lewat satu menit langsung catatan merah. Tujuh kali terlambat dalam sebulan tanpa alasan, kalian akan dievaluasi,” ujarnya
Beliau juga menekankan kepedulian pada hal-hal sederhana, termasuk kebersihan kantor. “Kalau lingkungan kerja saja tidak kalian jaga, bagaimana bisa dipercaya mengelola lahan sawit jutaan hektare?” katanya.
Wadirut Tekankan Tata Kelola dan Plasma
Selepas pidato Dirut, Wakil Direktur Utama Kusdi Sastro Kidjan menyampaikan pembekalan yang menyoroti sisi teknis manajemen perkebunan. Dengan gaya lugas, ia menguraikan pengalaman panjangnya dalam industri dan pentingnya membangun tata kelola yang sehat.
“Di perusahaan, kita harus tahu bagaimana membagi tanggung jawab. Dari keamanan, produksi, hingga manajemen sumber daya manusia, semua punya peran. Jangan sampai ada yang lepas,” ujarnya.
Pak Kusdi menyoroti plasma perkebunan sebagai bagian penting dari keadilan ekonomi. Ia mencontohkan kewajiban perusahaan mengalokasikan 20 persen lahan untuk plasma masyarakat.

“Bayangkan, kalau satu juta hektare, berarti 200 ribu hektare untuk plasma. Itu bukan angka kecil, bisa bernilai triliunan rupiah. Karena itu harus dikelola dengan serius,” katanya.
Beliau juga membandingkan dengan praktik di Malaysia, di mana masyarakat Melayu dilindungi melalui kepemilikan saham dan plasma yang lebih terjamin. “Kalau tidak diproteksi, orang Melayu di Malaysia bisa tersingkir. Itu jadi pelajaran bagi kita,” tegasnya.
Tantangan Sertifikasi Internasional
Selain plasma, Pak Kusdi juga mengingatkan soal standar keberlanjutan global seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Menurutnya, sertifikasi ini menjadi syarat mutlak agar produk sawit bisa diterima pasar internasional.
“Kalau ada masalah lingkungan, perusahaan bisa langsung kehilangan akses ekspor ke Eropa. Satu kasus bisa membuat semua berhenti. Karena itu kita harus patuh pada standar tinggi yang berlaku,” ujarnya.
Bagi peserta, pembekalan ini menjadi pengalaman berharga. Bella Febrina, peserta asal Riau, mengaku mendapatkan banyak ilmu sekaligus pengalaman praktis.

“Pembekalan ini sangat menyenangkan sekaligus edukatif. Kami tidak hanya mendapat materi teori, tapi juga diterjunkan langsung ke lapangan, khususnya ke Cikasungka. Dari situ saya bisa melihat bagaimana proses pengolahan sawit secara nyata,” ujarnya.
Bella berharap, hasil pembekalan ini bisa memperkuat kebersamaan di antara peserta. “Semoga ke depan kita lebih saling mendukung dan tidak individualis,” katanya penuh harapan.

Transformasi Mindset
Menutup pembekalan hari itu, Pak Agus Sutomo kembali menekankan tujuan utama kegiatan ini: transformasi pola pikir. Dari individu-individu dengan latar belakang beragam, mereka diharapkan berubah menjadi satu kesatuan yang kompak.
“Pembekalan ini bukan sekadar pelatihan, tapi proses membentuk keluarga besar Agrinas Palma yang loyal, patriot, profesional, dan produktif. Kalau kalian siap, masa depan perusahaan ini akan cerah. Kalau tidak, saya akan ambil tindakan tegas,” tandasnya. *
Divisi Komunikasi, Hubungan Kelembagaan, dan Media Kreatif
General Manager Renaldi Zein, MSi
Peliput: Asisten Manajer Komunikasi Internal Devano Christian, Staf Media Kreatif Anissa
Editor: Manajer Komunikasi Eksternal Natalia Santi

