
Jakarta, 11 September 2025 — Dalam rangka mendukung penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menyelenggarakan sosialisasinya sebagai upaya memperkuat komitmen keberlanjutan dan meningkatkan kapasitas karyawan dalam penerapan praktik perkebunan kelapa sawit yang bertanggung jawab.
Acara yang digelar Direktorat Riset, Pengembangan dan Keberlanjutan tersebut dihadiri ratusan karyawan di Kantor Pusat Agrinas Palma, secara hybrid, yakni luring maupun daring, Kamis (11/9).
Hadir dalam acara, Direktur Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Baginda Siagian, M.Si, yang menekankan pentingnya ISPO sebagai standar nasional untuk menjaga daya saing sawit Indonesia di pasar global. Menurutnya, ISPO bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan instrumen penting untuk memastikan tata kelola sawit ramah lingkungan, berkeadilan sosial, dan layak secara ekonomi.
“ISPO hadir untuk menjawab tuntutan keberlanjutan. Bukan hanya agar produk sawit diterima di pasar internasional, tapi juga untuk menjamin keberlangsungan ekonomi jutaan pekerja dan petani sawit,” ujar Baginda.

Dari sisi internal perusahaan, General Manajer Riset dan Teknologi Industri Hulu, Direktorat Riset, Pengembangan, dan Keberlanjutan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Ir. Rudy Yanto Sirait, M.Si, memaparkan langkah konkret yang ditempuh perusahaan dalam memenuhi tujuh prinsip ISPO. Prinsip tersebut meliputi kepatuhan hukum, praktik perkebunan yang baik, pengelolaan lingkungan hidup, tanggung jawab pekerja, tanggung jawab sosial, keberlanjutan usaha, dan transparansi.
“Setiap karyawan memiliki peran penting, mulai dari memastikan praktik budidaya sesuai standar, menjaga lingkungan, hingga membangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Implementasi ISPO bukan hanya soal dokumen, melainkan budaya kerja yang berkelanjutan,” jelas Rudy.

Sosialisasi juga membahas tantangan eksternal, termasuk regulasi Uni Eropa tentang EU Deforestation Regulation (EUDR), yang mewajibkan produk sawit bebas deforestasi dan dapat ditelusuri hingga ke titik asal
Dalam konteks ini, ISPO dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global sekaligus menjawab isu kampanye negatif terhadap industri sawit.
Selain dukungan regulasi, aspek pendanaan sertifikasi ISPO menjadi salah satu pemaparan. Disampaikan Dwi Nuswantara, Plt Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Kelapa Sawit II, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Dwi menyebutkan BPDP menyiapkan skema pembiayaan melalui program sarana dan prasarana perkebunan. Hingga 31 Agustus 2025, BPDP telah menerbitkan 152 rekomendasi teknis dengan nilai dana Rp576,3 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp297,89 miliar disalurkan dalam bentuk uang, sedangkan Rp278,40 miliar dalam bentuk barang. Realisasi penyaluran mencapai Rp138,75 miliar, dengan nilai pengembalian Rp929 juta
Skema pendanaan mencakup fasilitasi verifikasi teknis ISPO, penerbitan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), pernyataan kesanggupan pengelolaan lingkungan, pelatihan Sistem Kendali Internal (ICS), hingga pendampingan sertifikasi dan penilikan. Kelompok tani, gapoktan, koperasi, maupun kelembagaan ekonomi pekebun dengan lahan 500-1.000 hektar diprioritaskan dalam program ini.

Bagi Agrinas Palma Nusantara, dukungan pendanaan ini menjadi penopang penting agar proses sertifikasi berjalan lebih cepat dan inklusif, terutama dalam menjangkau pekebun kecil. Dengan basis tata kelola berkelanjutan, perusahaan berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan energi, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“ISPO adalah jalan menuju sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan. Kami ingin menjadi contoh bagaimana BUMN perkebunan bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan rakyat,” tutup Rudy.
Divisi Komunikasi, Hubungan Kelembagaan dan Media Kreatif
Manajer Hubungan Eksternal, Natalia Santi, staf Hubungan Kelembagaan Farah Tifa Aghnia
