Sahat Sinaga: Agrinas Palma Harus Menjadi Soko Guru Industri Sawit Indonesia


Jakarta, 25 Juli 2025 — Sawit bukan hanya komoditas, tapi fondasi masa depan ekonomi nasional. Pesan itu berulang kali ditegaskan Sahat Manaek Sinaga, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, saat berbicara mengenai potensi transformasi industri sawit yang digagas PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Dalam pandangannya, Agrinas Palma bukan sekadar perusahaan, melainkan pionir role model bagi kebangkitan kembali industri sawit Indonesia.

“Sekarang Agrinas Palma akan punya kawasan sekitar 2-3 juta hektare. Ini bisa jadi yang terbesar di Republik,” ucap Pak Sahat di kantor pusat PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) di Jakarta, Kamis (24/7).

Bincang dengan senior sawit Sahat M Sinaga dilakukan seksama bersama Natalia Santi, Kepala Subdivisi Komunikasi PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Nan menarik adalah perjumpaan tak terencana Pak Sahat dengan Renaldi Zein Kepala Divisi Komunikasi Agrinas Palma. Mereka telah sangat kenal lama 33 tahun silam saat meneliti pasar “cooking oil” alias minyak goreng dan prospeknya di Indonesia.

Sawit, Bukan Lagi Sekadar Crude Palm Oil

Pak Sahat menekankan pentingnya keluar dari zona nyaman industri sawit nasional yang selama ini hanya mengandalkan crude palm oil (CPO) dan menikmati profit tanpa inovasi. Baginya, Agrinas Palma harus menjadi lokomotif perubahan.

Langkah awal, menurut Pak Sahat, adalah menyelesaikan seluruh aspek legal atas lahan, termasuk surat pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Menurutnya, ini penting, terutama untuk memenuhi ketentuan European Union Deforestation Regulation (EUDR), agar produk sawit nasional bisa menembus pasar global secara luas dan berkelanjutan.

“Legalitas lahan itu syarat mutlak. Kalau tidak, kita tidak akan bisa masuk pasar Eropa,” ujar Pak Sahat.

Pak Sahat menyebutkan perlunya pergeseran dari sekadar membangun pabrik CPO menjadi penciptaan nilai tambah berbasis high quality-low carbon emission.

Dalam istilahnya, marketing game sawit nasional harus di-relaunch. Ia mengusulkan model-model baru seperti kawasan industri sawit berbasis energi bersih di Papua atau pesisir Sumatera Barat, bukan lagi berpusat di Dumai yang selama ini menjadi pintu ekspor utama.

“Mengirim dari Dumai ke Selat Malaka itu sudah 11 dolar per ton. Padahal kalau dari Pantai Barat atau Papua, bisa hemat 10-12 dolar,” jelasnya.


Dokter Sawit dan Teknologi Baru

Salah satu gagasan yang mencuri perhatian adalah usulan menciptakan profesi baru, dokter kesehatan tanaman sawit. Menurut Pak Sahat, penyakit pada tanaman sawit sering tidak disadari, padahal dapat menurunkan produktivitas hingga 20 persen. Ia melihat Agrinas bisa menjadi pusat pelatihan, riset, hingga pengembangan ekosistem sumber daya manusia sawit Indonesia.

“Kenapa hewan punya dokter, tapi tanaman sawit tidak? Padahal ini komoditas strategis,” katanya.

Pak Sahat juga menyoroti bagaimana teknologi penyulingan minyak sawit yang digunakan Indonesia masih usang, membuang banyak kandungan vitamin dalam sawit. Negara-negara di Afrika, ujarnya, sudah selangkah lebih maju dengan menjaga kandungan nutrisi minyak sawit mereka.

Dengan semangat mengembalikan nilai gizi sawit, Sahat bahkan menyebut bahwa banyak pemain sepak bola kelas dunia dari klub-klub Eropa berasal dari Afrika Barat, wilayah yang konsumsi sawitnya masih mempertahankan nutrisinya.

“Kenapa mereka kuat? Karena makan sawit yang masih mengandung vitamin. Kita buang vitaminnya demi minyak goreng bening,” katanya dengan getir.

Transformasi yang dibayangkan Sahat tidak berhenti pada aspek produksi dan distribusi. Ia mendorong inovasi hingga ke hilir, seperti penyediaan dispenser minyak goreng sehat yang tersebar di berbagai daerah, efisiensi logistik sawit dengan pendekatan geostrategis pelabuhan, dan kemitraan dengan petani melalui pola bagi hasil yang adil tanpa menambah beban modal.

“Dari loyang menjadi emas,” katanya. “Agrinas Palma harus menjadikan sawit bukan hanya komoditas, tapi strategi.”

Sahat Manaek Sinaga, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (kanan), saat berbincang dengan Natalia Santi, Kepala Subdivisi Komunikasi dan Kelembagaan Agrinas Palma di kantor pusat PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) di Jakarta, Kamis (23/7).

Potensi Ekonomi Ganda

Pak Sahat memproyeksikan bahwa dengan tata kelola dan inovasi yang tepat, pendapatan dari sawit Indonesia dapat melonjak dari USD 61,8 miliar pada 2024 menjadi USD 142,1 miliar pada 2029.

“Itu bukan mimpi. Tapi perlu orang yang kompeten. Harus ada pelaksana yang paham lapangan,” tegasnya.

Di akhir perbincangan, Pak Sahat mengingatkan bahwa hanya dengan keberanian, kecepatan, dan kolaborasi, Agrinas Palma dapat menjadi sokoguru industri sawit Indonesia. Sebuah posisi strategis yang menuntut lebih dari sekadar pengelolaan lahan, tetapi juga visi untuk membangun masa depan industri yang berkelanjutan, berdaulat, dan mensejahterakan.

Tapi untuk sampai ke sana, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, baik di kebun, pabrik, maupun soal inovasi. Dalam paparannya, Pak Sahat memaparkan beberapa syarat antara lain.

1. Produktivitas Kebun Harus Naik
Saat ini produktivitas sawit APN masih bisa ditingkatkan. Targetnya bisa tembus 25 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Kuncinya ada di kedisiplinan petugas kebun, kebersihan areal tanaman, pemupukan yang tepat, dan pengendalian hama. Serangan hama bisa bikin hasil panen anjlok sampai 22 persen!

Petugas lapangan juga harus bebas dari narkoba dan gangguan keamanan. Rotasi panen jangan sampai telat, infrastruktur seperti jalan kebun juga harus terus dijaga.

2. Pabrik Harus Lebih Efisien
Di pabrik, targetnya rendemen minyak sawit mentah (CPO) bisa naik dari 20% ke 21,5%. Caranya? Sortir buah dengan lebih ketat, kurangi serat dan kotoran sebelum proses pengolahan, dan pastikan tekanan uap di sterilizer sesuai standar. Proses pemisahan mesokarp dan inti sawit juga harus lebih rapi.

3. Inovasi Jadi Kunci
Agrinas Palma Nusantara juga didorong jadi pelopor ekonomi sirkular. Limbah sawit seperti tandan kosong bisa diubah jadi pupuk organik (BOF), mengurangi penggunaan pupuk kimia dan emisi karbon. Batang pohon bekas replanting pun bisa diolah jadi panel komposit untuk bahan bangunan, sangat tepat untuk mendukung target tiga juta rumah rakyat per tahun.

4. Siap Gandeng Mitra
Untuk memperkuat diri, Agrinas Palma Nusantara membuka peluang kerja sama strategis. Tapi sebelum itu, perlu pengecekan legalitas, status lahan, kondisi kebun, kinerja pabrik, dan kesiapan SDM.

Dengan kerja keras dan kolaborasi, Agrinas Palma Nusantara punya kans besar jadi pemain utama dalam industri sawit yang lebih hijau, efisien, dan modern.

“Sawit adalah masa depan Republik ini. Dan Agrinas Palma punya kesempatan emas untuk menjadi motor perubahan itu,” katanya.

Penulis: Natalia Santi
Editor: Renaldi Zein, MSi

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these