Peta Cerdas Menuju Masa Depan Agrinas

Febian Garvin Abidin, S.Si, M.Sc Manajer GIS menunjukkan peta GIS Agrinas Palma Nusantara

Jakarta, 7 Oktober 2025 – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) semakin mantap melangkah ke era digital farming dengan teknologi Geographic Information System (GIS). Bukan sekadar peta, GIS kini menjadi “otak cerdas” yang menggabungkan data spasial, analitik, hingga kecerdasan buatan (AI).

“GIS itu bukan lagi peta datar. Sekarang bisa tiga dimensi, ditambah AI untuk membaca kontur hingga kesehatan tanaman,” ujar Teddy Juanda Simatupang, ST, MM, Direktur Riset, Pengembangan, dan Keberlanjutan Agrinas Palma Nusantara.

Dengan GIS, perusahaan bisa memverifikasi lahan secara akurat, mulai dari batas hukum, jalur keamanan, hingga infrastruktur vital. “GIS membuat kita tahu persis apa yang menjadi tanggung jawab,” tambahnya.

Direktur Riset, Pengembangan, dan Keberlanjutan Agrinas Palma Nusantara., Teddy Juanda Simatupang, ST, MM.

GIS di Agrinas Palma Nusantara bukan lagi data statis. Melalui aplikasi web dan ponsel, informasi dapat diakses sesuai level otorisasi. Keputusan pun bisa diambil lebih cepat.

“GIS bukan hanya untuk pemetaan. Jika dilakukan pemotretan secara periodik maka didapat data yang menjadi kajian operasi perkebunan,” jelas Pak Teddy.

Menurut Darma Setiawan, M.Mtr, General Manager IT and GIS, sistem ini jauh lebih detail dibandingkan peta komersial. “Kalau Google Earth hanya menunjukkan ada pohon atau tidak, GIS kami bisa membedakan pohon sehat dan yang sakit, bahkan membaca warna daun,” ujarnya.

Direktur Riset, Pengembangan, dan Keberlanjutan Agrinas Palma Nusantara., Teddy Juanda Simatupang, ST, MM (kanan) bersama General Manager IT dan GIS Darma Setiawan, M.Mtr.

Menuju Smart Farming

GIS menjadi pintu masuk menuju smart farming. Dengan citra berkala setiap enam bulan, Agrinas bisa melacak penyebaran penyakit tanaman hingga memprediksi kematangan buah sawit.

Selain itu, validasi batas lahan kini lebih transparan. Semua direktorat mengacu pada satu sumber data yang sama, sehingga potensi perbedaan hitungan area bisa dihindari.

Tantangan dan Dukungan

Tantangan terbesar GIS adalah infrastruktur. Akses internet di daerah terpencil, misalnya, masih membutuhkan dukungan tambahan seperti satelit Starlink.

Namun, kunci sukses GIS bukan hanya teknologi. “GIS tidak hanya milik IT atau riset. Operasi, hukum, bahkan keuangan pun butuh. Karena itu, pemahaman bersama jadi sangat penting,” tegas Pak Teddy.

Agrinas Palma Nusantara telah memetakan sejumlah area strategis dengan GIS. Manfaatnya bukan hanya teknis, tapi juga emosional.

“Teman-teman kini bisa melihat kebun kita, lengkap dengan bentuk dan batasnya. Itu menumbuhkan rasa memiliki,” kata Febian Garvin Abidin, S.Si, M.Sc Manager GIS.

Dari dashboard, status setiap blok bisa dilihat, apakah sudah ditanami, plasma masyarakat, atau masih kosong. Sistem bahkan bisa langsung menghitung luas lahan untuk rencana kerja sama atau biaya perawatan.

Transparansi dan Masa Depan

GIS membuat seluruh aset perkebunan terlihat dalam sekali klik, mulai dari pabrik, gudang, perumahan, hingga aliran sungai. Monitoring tidak lagi harus selalu turun ke lapangan.

“GIS memberi narasi baru: Agrinas siap dengan teknologi modern. Kita tidak lagi tertinggal, justru sedang menjadi pelopor,” ujar Garvin.

Bagi Agrinas Palma Nusantara, GIS bukan hanya tentang teknologi. Ia adalah fondasi menuju pertanian digital yang transparan, efisien, dan berkelanjutan.

“Harapan kami, Agrinas bisa menjadi yang terdepan dalam pemanfaatan GIS di industri kelapa sawit. Dari sini, smart farming untuk ketahanan pangan Indonesia bisa kita bangun,” kata Pak Teddy optimistis.

Direktur Operasional Agrinas Palma Nusantara, Ospin Sembiring.

Sejalan dengan visi tersebut, Direktorat Operasi turut memberikan dukungan nyata terhadap percepatan pemetaan dan operasional melalui digitalisasi.

Direktur Operasional Bapak Ospin Sembiring menyatakan dukungan ini diwujudkan dengan memastikan seluruh proses lapangan terintegrasi secara langsung ke dalam sistem GIS perusahaan, mulai dari penyediaan data operasional harian dari kebun hingga pabrik, pelatihan tenaga operasional dalam penggunaan aplikasi digital, hingga penerapan standar kerja berbasis teknologi untuk validasi data yang lebih cepat dan akurat.

Selain itu, Direktorat Operasi mendorong pemanfaatan perangkat digital seperti drone untuk pemetaan, sensor kelembaban tanah, serta monitoring produksi berbasis aplikasi, sehingga setiap informasi dapat segera terekam ke dalam dashboard GIS.

“Dengan langkah ini, keputusan manajerial terkait pemetaan, perawatan kebun, maupun pengelolaan infrastruktur operasional dapat diambil lebih transparan, efisien, dan terukur,” kata Pak Ospin.

Pak Ospin pun menyatakan integrasi ini menegaskan bahwa digitalisasi bukan hanya alat bantu, melainkan pondasi utama bagi percepatan pemetaan dan keberlanjutan operasional Agrinas Palma Nusantara. ***

Tim Divisi Komunikasi, Hubungan Kelembagaan dan Media Kreatif
Renaldi Zein, MSi, General Manager

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these