Akademisi IPB Puji Varietas Sawit Unggul Agrinas Palma

Jakarta, 2 September 2025 – Hamparan hijau kebun sawit serasa menyambut rombongan kendaraan perlahan yang memasuki areal Kebun Johan Sentosa. Di tengah sawit yang berjajar rapi itu, langkah-langkah penuh harapan dimulai. PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menyambut kunjungan kerja para akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan praktisi agribisnis untuk meninjau kebun, laboratorium, serta demplot penelitian.

PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) kian memperkuat langkahnya sebagai pusat riset sawit nasional. Pada 21–25 Agustus lalu, perusahaan menerima kunjungan kerja para akademisi dan peneliti ke Kebun Johan Sentosa serta PT PIL di Regional 1 Riau.

Kunjungan tersebut dihadiri oleh perwakilan Divisi Riset dan Teknologi Industri Hulu bersama sejumlah guru besar dan peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka adalah Prof. Sudradjat (Departemen Agronomi dan Hortikultura), Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc (Teknologi Komputer), Dr. Harry Imantho, S.Si, M.Sc (Laboratorium Analisis Spasial Lingkungan), serta Guna Setiawan, praktisi agribisnis.

Apresiasi Akademisi

Di tengah hamparan sawit yang ditanam sejak 2012, rombongan berhenti di sebuah demplot. Batang-batang kokoh dengan pelepah hijau segar menjadi saksi dialog penuh makna.

“Varietas ini luar biasa,” ujar Prof. Sudradjat sambil menunjuk pohon sawit DXP Simalungun, hasil persilangan mandiri Agrinas.

Prof. Sudradjat mengapresiasi atas capaian perkebunan sawit Agrinas. Ia menilai varietas DXP Simalungun, hasil persilangan mandiri perusahaan, memiliki performa menonjol.

Ia menegaskan, pada 2024 saja varietas ini mampu menghasilkan 34 ton TBS per hektar dengan potensi rendemen sekitar 26 persen, atau hampir 9 ton CPO per hektar. Lebih jauh, produktivitas itu diperkirakan bertahan hingga tanaman berusia 17 tahun dengan capaian 35 ton TBS per hektar.

“Produktivitas varietas ini pada 2024 mencapai 34 ton TBS per hektar dengan potensi rendemen sekitar 26 persen, atau hampir 9 ton CPO per hektar. Bahkan hingga usia tanaman ke-17 tahun, produksinya diproyeksikan bisa bertahan pada kisaran 35 ton TBS per hektar,” ujarnya saat meninjau demplot.

Pentingnya Pencatatan OR

Dialog antara tim Agrinas dan akademisi IPB berlangsung hangat di lokasi. Prof. Sudradjat menekankan pentingnya pencatatan data oil recovery (OR) agar potensi produksi dapat terukur dengan akurat. “Kalau OR bisa dibuktikan konsisten di angka 26 persen, capaian 9 ton CPO per hektar sepenuhnya realistis,” katanya.

Menanggapi hal itu, Sunardi dari PT PIL menjelaskan bahwa instrumen pengukuran OR tersedia, meski belum seluruh data terhimpun secara sistematis. Ia memastikan ke depan pencatatan akan lebih rapi untuk mendukung standardisasi praktik terbaik.

Selain aspek produktivitas, diskusi juga menyinggung soal mekanisasi. Para peserta meninjau penggunaan alat pengangkut buah sawit berkapasitas hingga 790 kilogram. Mekanisasi dinilai penting untuk menjaga efisiensi panen di areal perkebunan datar maupun berparit.

Capaian varietas DXP Simalungun ini diyakini tidak lepas dari kekuatan sumber daya genetik milik Agrinas. Hasil persilangan mandiri yang dikembangkan selama bertahun-tahun telah melahirkan tanaman sawit dengan produktivitas tinggi dan ketahanan jangka panjang.

Dukungan serta validasi dari akademisi IPB mempertegas posisi Agrinas Palma Nusantara. Perusahaan pelat merah ini dinilai memiliki pondasi kuat untuk berkembang sebagai pusat riset sawit internasional sekaligus motor penggerak industri sawit berkelanjutan di Indonesia. ***

Divisi Komunikasi, Hubungan Kelembagaan dan Media Kreatif
General Manager Renaldi Zein, MSi
Penulis: Natalia Santi
Foto-foto: Divisi Riset, Pengembangan dan Keberlanjutan

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like these