
Jakarta, 4 Juli 2025 – Zulham S. Koto mengingat betul detik pertama ia mengenal Agrinas Palma Nusantara. “Tanggal 10 November 2024, pukul 11.03 pagi,” ujarnya sambil tersenyum. Pagi itu, sebuah telepon dari Komisaris Utama, Letjen TNI (Purn.) Wisnoe Prasetja Boedi, mengubah arah karier panjangnya di sektor perkebunan dan energi.
“Saya tertarik. Saya ingin belajar sawit,” katanya mengenang kalimat yang disampaikan Wisnoe di awal perkenalannya dengan perusahaan yang kini mengelola lebih dari 480 ribu hektare lahan sawit di Indonesia. Sebuah angka fantastis, mengingat mayoritas perusahaan sawit global membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai sepersepuluh dari luas itu.
Namun, Zulham tak datang sebagai orang baru. Sebelum dipercaya sebagai Direktur Bisnis dan Komersial, ia pernah duduk di Komite Audit, kemudian di Komite Nominasi & Remunerasi Agrinas Palma. Kini, tanggung jawabnya bertambah besar. Yakni membangun sistem dan produk unggulan di atas pondasi yang belum genap setahun berdiri.
Latar belakang Zulham dalam industri sawit, termasuk pengalaman bersama korporasi Amerika, membuatnya cepat menangkap arah visi besar Agrinas, swasembada energi nasional. Ia paham betul tantangan ambisi Presiden Prabowo Subianto dalam program biodiesel B100.
“Untuk mencapai itu, dibutuhkan setidaknya enam juta hektare tambahan lahan perkebunan sawit. Yang ada sekarang, sekitar 17 juta hektare, guna menyuplai kebutuhan industri makanan, farmasi, kosmetik, dan lainnya. Kita butuh kebun tambahan tanpa mengganggu ekosistem industri sawit yang sudah mapan,” ujarnya.
Bayi Gatotkaca
Zulham menggambarkan Agrinas sebagai “bayi Gatotkaca”. Dalam waktu singkat, perusahaan negara ini sudah mengelola kebun sawit seluas 485 ribu hektare. Dimulai dari aset eks Duta Palma, dilanjutkan lahan eks PKH, lalu tambahan dari eks Torganda Group.
“Bandingkan dengan perusahaan global, mau bangun 10.000 hektare saja bisa tunggang-langgang usaha dan energi yang dibutuhkan. Kita ini luar biasa,” ujarnya.
Namun, Zulham tahu betul bahwa luasan hanyalah satu sisi koin. Di baliknya tersembunyi tantangan agronomi, hukum, SDM, hingga infrastruktur. Jalan kebun yang terbentang ribuan kilometer perlu direhabilitasi. Pabrik perlu direvitalisasi. “Kita perlu normalisasi, dari kebun sampai jalur distribusi,” tegasnya.
Selain tantangan fisik, hal lain yang tak kalah penting adalah sumber daya manusia. Agrinas Palma adalah rumah baru bagi pekerja dari ratusan perusahaan dengan latar belakang, budaya kerja, dan sistem manajemen berbeda. “Ada ratusan perusahaan yang kita rekatkan. Budaya kerja beda-beda. Kita harus samakan napasnya,” katanya.
Ia yakin, dengan kepemimpinan yang ada, dari komisaris hingga direktur utama, Agrinas mampu membangun semangat, kekompakan dan produktif. “Patriot, Loyal dan Profesional. Ditambah disiplin, jujur, bertanggung jawab,” ujarnya menyebut nilai-nilai dan moto Agrinas Palma.
Dari Standar Menuju Super Premium
Zulham kini fokus menyusun peta jalan pengembangan produk. Prioritasnya jelas. Yakni memastikan CPO (minyak sawit mentah) hasil Agrinas Palma tidak sekadar kompetitif, tapi juga unggul secara kualitas.
“Kita ingin ada kelas-kelas. Mulai dari CPO standar, ke premium, hingga super premium. Sama pabriknya, sama kebunnya, tapi kita bisa hasilkan kualitas, dan harga jual CPO yang lebih tinggi,” katanya.
Ia menargetkan tambahan USD 3–5 per ton untuk produk premium, bahkan biisa lebih jika menyasar pasar niche. Zulham paham bahwa semua ini hanya bisa dicapai melalui kerja kolektif, bukan sekadar visi individual.
Inspirasi dari Rumah
Ketika ditanya soal moto hidup, jawabannya sederhana. “Bermanfaat bagi sesama secara berkelanjutan,” kata Zulham.
Moto itu ia warisi dari ayahnya, seorang guru yang dikenal disiplin seperti militer. “Bapak saya itu kepala kantor, tapi selalu datang lebih pagi dari office boy,” kenangnya dengan mata berkaca.
Zulham percaya bahwa kesuksesan adalah tentang berkontribusi pada kesuksesan orang lain. “Bantu sebanyak mungkin orang untuk sukses, maka kita akan sukses bersama,” katanya.
Di Agrinas Palma Nusantara, Zulham bukan sekadar menjalankan mandat profesional. Ia seperti sedang menjahit ulang cita-cita lama negeri. Yakni mewujudkan kedaulatan energi melalui kekuatan dalam negeri. Dan untuk itu, ia tahu, kerja belum selesai.
“Ini baru permulaan,” katanya. “Tapi kita punya fondasi yang kuat. Tanah, tim, dan tujuan.”

Tim Divisi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan.
Natalia Santi, Nabila Alfianisa Afif Bariski, Muhammad Revanza Refikasah

